Paket Tirta Yatra Tambora

 

 

 

 

 

 

 

PAKET TOUR TIRTA YATRA ( 2 MALAM – 3 HARI )

PT NISCAYABALI TRAVEL

TGL TRANSPORT ROUTE PAKET TOUR  PERJALANAN DPS – TAMBORA MAKAN
FLIGHT / BUS

DPS- LOMBOK –SUMBAWA

06.30  Berangkat  menuju  Bandara

08.30 Tiba di Bandara I GustiNgurah Rai Dps

10.55 Pesawat  berangkat  menuju Sumbawa via Lombok/Mataram

12.30 PesawatTiba di Sumbawa berangkat menujuTambora

 

Persembahyangan :

a.   PURA WATU GONG

b.     PURA BHUANA NATHA.

 

MS/MM
MS & MM / Makemit di Pura .
BUS  TAMBORA MP/MS/MM
07.00 Sarapanpagi

08.00 Berangkat  menuju  Desa Pancasila

Persembahyangan :

a.  PURA TAMBORA ( NaikOjek )

b.     14,00Balik menu PURA BHUANA NATHA .

 

MP/MS/MM &Makemit  di  Pura
BUS / FLIGHT/ TAMBORA – DPS TAMBORA – LOMBOK – DPS MP
04.00 Sarapan pagi

06.00 Penerbangan menuju  Lombok – Dps

07.30 Tiba di Dps – Bali

Tiba di Dps  Bali Acara Tour Tirta Yatra selesai dan  Peserta di antar menuju  Tempat penjemputan semula,

 

PAKET TOUR SUDAH TERMASUK

  1. Penjempuan PP
  2. Penerbangandari GARUDA / LION AIR RETURN  ( DPS – SUMBAWA ) Via Lombok/Mataram .
  3. Makan sesuai dengan Itenerary di atas
  4. MP 2X
  5. MS 2X
  6. MM 2X
  7. Local Guide di Tambora
  8. Kunjungan di Pura
  9. Pejati .
  10. Pemangku di Pura .
  11. Mineral Water /botol/ pax / hari .
  12. NaikOjekke Pura TAMBORA
  1. Bus PariwisatauntukPenjemputan PP
  2. Asuransiperjalanan

PAKETTOUR  BELUM TERMASUK

  1. Dana Punia yang sifatnya Pribadi di setiap Pura .
  2. Biaya Tour selain tertera di atas + Tambahan kunjungan.

Harga tour akan mengalami penyesuaian masih bisa berubah di akibatkan ketersediaan tempat duduk dalam penerbangan .

PURA AGUNG UDAYA TAMBORA

Kambali Dompu Mantoi – Pura Agung Udaya Parwata Tambora atau Pura Jagat Agung Tambora adalah sebuah bangunan peribadatan milik pemeluk agama Hindu di Pulau Sumbawa, NTB. Kompleks pura ini masuk ke dalam dua kabupaten. Sebagian masuk wilayah Desa Oi Bura Kabupaten Bima sedangkan sisanya masuk ke dalam wilayah Dusun Pancasila Kabupaten Dompu. Pura ini dibangun tahun 1984 oleh sebuah perusahaan pemegang HPH di Tambora diperuntukan untuk ibadah karyawan beragama Hindu dalam bentuk pura yang sangat kecil. Namun sejak perusahaan itu angkat kaki, pura ini pun terbengkalai dan rusak.

Pembukaan hutan di kaki Tambora untuk perluasan pemukiman pun terjadi. Warga Dusun Pancasila yang membangun pemukiman di sana akhirnya menggunakan mata air yang terletak di dekat kompleks pura untuk keperluan hidup mereka sehari-hari. Hingga tahun 1995 program transmigrasi akhirnya mendatangkan warga Hindu dari Bali ke Kabupaten Dompu, Bima, dan juga Kab. Sumbawa. Tahun 1995 mereka mencari, membangun dan menghidupkan kembali Pura Tambora ini. Sehingga saat ini Pura Tambora telah menjadi Pura Agung yang disembahyangi oleh umat Hindu se-Pulau Sumbawa.

Lokasi pembangunan pura ini dipilih di sebuah mata air yang konon menurut kepercayaan pemeluk Hindu Bali pernah dijadikan lokasi semadi Danghyang Nirarta (1478 – 1560 M). Seorang tokoh spiritual Hindu. Keyakinan Hindu Bali memang mengharuskan di tempat itu dijadikan lokasi pura. Meskipun hanya sedikit warga Hindu yang bermukim di sekitar pura. Beberapa lokasi semadi Dahyang Nirarta di Bali dan Lombok pun kini telah dibangun pura agung nan megah. Namun, mungkin banyak orang tak tahu bahwa Pura Tambora sejatinya terletak di dekat perkampungan muslim. Bukan di daerah mayoritas Hindu. Sebab di dekat pura, di sebelah barat daya terdapat Dusun Pancasila di mana hampir seluruh warganya adalah muslim. Dan mereka menggantungkan kehidupan rumah tangga mereka dari mata air yang berada persis di sisi barat laut pura itu.

Pura ini direnovasi dari tahun 1995 hingga tahun 2005. Namun di tahun 2007 diguncang gempa hingga membuat pura rusak. Mulai tahun 2008 hingga awal 2014 pura ini kembali direnovasi dan diperluas. Renovasi dan perluasan inilah yang kemudian memicu konflik antara umat hindu pengempon pura dengan warga Dusun Pancasila serta memicu reaksi keras umat Islam di Bima dan Dompu.

Konflik terjadi disebabkan oleh kesewenangan pihak pengelola pura yang menutup dan mengecor sumber mata air dengan beton. Hal ini membuat warga Dusun Pancasila tak lagi bisa memanfaatkan mata air tersebut untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Warga muslim yang tersinggung dengan sikap semena-mena warga hindu akhirnya melakukan penyerangan terhadap umat Hindu.

Isu pun meluas, beritanya menyebar dan mendapat perhatian besar dari masyarakat Dompu khususnya. Akhirnya banyak orang mengumpulkan informasi mengenai Pura Tersebut. Mengapa bisa di bangun di tempat itu? Informasi mengejutkan pun didapat. Di tengah-tengah masyarakat Dompu dan Bima pun beredar kabar yang mengatakan bahwa Pura Tambora akan dibangun menjadi Pura terbesar di Asia. Lebih lanjut, pura itu akan dijadikan salah satu destinasi wisata dalam rangka Peringatan 2 abad meletusnya G. Tambora di tahun 2015 nanti. Ternyata di beberapa media Bali pun didapati informasi bahwa Pura Agung Tambora menempati wilayah seluas 12 hektar. Maka pura ini akan menjadi Pura terbesar se-Asia. Se-Asia!

Kontan saja hal ini menyinggung harga diri masyarakat Dompu yang sangat fanatik dengan Islamnya. Sejarah panjang masyarakat Bima-Dompu dengan Islam dapat dilacak sejak zaman berdirinya Kesultanan Dompu dan Kesultanan Bima. Bagi masyarakat Dompu, tidak masalah kaum Hindu ingin beribadah dan membangun pura sesukanya. Namun jangan menambah embel-embel “terbesar se-Asia”. Karena hal itu akan menimbulkan persepsi di dalam pikiran masyarakat Indonesia bahwa agama mayoritas orang Dompu adalah Hindu. Di sisi lain, embel-embel “terbesar se-Asia” menimbulkan kecurigaan dari masyarakat Dompu bahwa ada maksud tersebunyi dari kaum Hindu untuk membuat Hindu menjadi agama mayoritas di Dompu.