Paket Tirta Yatra Kutai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Program Tirta Yatra Kutai 4 Hari 3 Malam

Obyek Kunjungan &  Persembahyangan  : Pura Jagat Hita Karana – Pura Payogan Agung Kutai Obyek Wisata yang dikunjungi : Taman Bukit Suharto – Tepian sungai mahakam – Budha Center – Musium Mulawarman

Hari 01  Balikpapan-Samarinda(L,D)

Peserta di jemput ke tempat yang telah ditentukan untuk diantar menuju Airport Ngurah Rai. Tiba di  Bandara Sepinggan Balikpapan Peserta dijemput dengan Bus Pariwisata langsung makan siang, setelah itu melanjutkan perjalanan ke samarinda menempuh perjalanan 3 Jam melewati Taman Bukit Suharto dan Tepian sungai mahakam, check in hotel, malam hari melaksanakan sembahyang bersama di Pura Jagat Hita Karana dipimpin oleh Pinandita setempat, makan malam di Madya Mandala, kembali ke hotel, free program.

Hari 2: Tirta Yatra Kutai   –  Tenggarong(B,L,D)

Setelah sarapan pagi dihotel, peserta check out dilanjutkan wisata ke Budha Center, Desa Budaya Pampang( melihat adat istiadat suku dayak kenyah ),  photo stop di Tepian Sungai Mahakam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tenggarong menempuh jarak 2 jam, tiba di Pura Payogan Agung Kutai melaksanakan puja bhakti bersama dipimpin oleh Pinandita setempat, makan siang di Madya Mandala, kemudian wisata ke Musium Mulawarman, Makam Raja-Raja, menikmati keindahan Pulau Kumala, sore hari melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, makan malam dilokal restaurant, check in hotel, free program.

Hari 3: Balikpapan city tour(B,L,D)

Pagi hari sarapan pagi setelah itu wisata ke Monumen Perjuangan Rakyat, Pantai Kemala, shopping Pasar Impres Kebun Sayur, makan siang dilokal restaurant, dilanjutkan ke Agro Wisata KM. 23( melihat rehabilitasi Beruang Madu ), sore hari kembali ke hotel, persiapan utk sembahyang di Pura Jaya Giri Natha, makan malam di Madya Mandala, sembahyang bersama, kembali ke hotel, free program.

Hari 4: Transfer out Balikpapan(B)

Setelah sarapan dihotel peserta check out kemudian selanjutkan kpeserta diantar ke Bandara Sepinggan Balikpapan untuk melanjutkan penerbangan ke Denpasar.

Harga Termasuk Harga Tidak Termasuk
1. Tiket Pesawat & Airport Tax 2.Transportasi Bus Pariwisata, Ac, Tape, Video, Rec. seat 2-2 3.Hotel sesuai program ( sekamar berdua ) 4.Makan 5 kali sesuai program, snack 2x , air mineral 600ml 5.Tiket Obyek Wisata Sesuai Program & Guide 6.Parkir, Tol, Dispensasi Polisi dan Asuransi Perjalanan Wisata 7.Banten Pejati 4 buah untuk 2 pura 8. Tour Leader 1. Sesari di Pura 2. Pengeluaran lain selain program diatas 3. Tip utk guide & sopir

Ulasan Pura PAYOGAN AGUNG Kutai Kalimantan Timur

Kalimantan ternyata tidak hanya memukau karena ada Sungai Mahakam yang mencabiknya. Atau rimba raya, aneka fauna langka, tambang migas dan batu baranya. Di sana juga ada pura, tepatnya di Kutai Kartanegara, satu dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Timur (Kaltim). Pura Payogan Agung Kutai, begitu namanya memendam nilai historis tentang sejarah diri, tak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi bangsa ini. Mengapa? Berikut secuil catatan wartawan Bali Post Gregorius yang sempat mengunjungi tempat suci itu bersama rombongan Famtrip Garuda dari Denpasar.


PERJALANAN dari Denpasar ke Balikpapan dengan menyinggahi Makassar untuk mencapai Pura Payogan Agung, Kutai sugguh suatu ”pendakian spiritual”. Perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 4 jam dari Balikpapan menuju Tenggarong, Kutai Kertanegara sangat melelahkan, tetapi dalam perspektif rohani justru menjadi semacam ekstase ketika akhirnya kita menemukan ”sejarah diri” di pura yang terletak di Jalan Loah Ipuh, Gg. Nusa Indah, Tenggarong itu.

Rombongan dari Bali yang bertolak dari Balikpapan tiba sekitar pukul 12.00 wita di Tenggarong. Setelah sejenak mengunjungi Museum Mulawarman di kota yang sama, rombongan menuju Pura Payogan Agung, Kutai yang jaraknya sekitar 4 km dari museum. Terik matahari yang seolah menikam ubun-ubun tak mengurangi niat sejumlah umat Hindu dalam rombongan untuk melaksanakan sembahyang tirtayatra.

Pura Payogan Agung, Kutai sendiri memiliki nilai historis. Pemangku Pura Payogan Agung IB Dwijatenaya memaparkan, pura ini diresmikan tahun 1998. Pembangunannya sebagian ditanggung pemda setempat (Rp 1,2 milyar), plus dana punia dari umat Hindu se-Tanah Air, termasuk dari Bali. Bahkan, pria kelahiran Tabanan yang juga dosen ini mengaku Bali Post ikut berperan dalam sosialisasi tahapan pemugaran Pura Payogan Agung, Kutai.

Made Santha dari Satriavi Balikpapan memaparkan, pura ini punya nilai historis, bukan saja bagi umat Hindu setempat, melainkan bagi umat Hindu di seluruh Nusantara. Betapa tidak, Kutai merupakan suatu daerah yang pertama mendapat pengaruh Hindu di Indonesia. Periode pengaruh Hindu India adalah masa kedatangan para pedagang dan Brahmana India.

Dalam sejarah disebutkan, pada abad ke-4 Masehi, ada sebuah berita dari India yang menyebut kata Queetaire yang diduga berasal dari Kutai Kertanegara yang berarti hutan belantara. Bukti adanya relasi India-Kutai diperkuat dengan ditemukannya peninggalan prasasti berupa tiang batu (Yupa). Isi prarasti berupa peringatan upacara kurban kepada para Brahmana berupa antara lain ribuan ekor lembu.

Daerah Kutai adalah daerah yang dilintasi garis kathulistiwa, garis tengah bumi. Ilmu perbintangan Hindu (Jyotisha) sangat memperhatikan posisi alam semesta seperti posisi matahari, bulan dan bumi dalam garis lurus. Artinya, ketika bulan dan matahari tegak lurus di atas kathulistiwa dipilih oleh umat Hindu saat itu untuk melaksanakan upacara-upaya tertentu, seperti Bhuta Yadnya dan Dewa Yadnya.

Para Brahmana sangat sentral perannya dalam membangun Kerajaan Kutai Kertanegara yang raja pertamanya adalah Kudungga. Kemudian lahir putra mahkota Aswawarman yang menjadi raja kedua dengan tiga orang putra yang satu di antaranya bernama Mulawarman. Kelak, Mulawarman merupakan penerus tahta Kutai Kertanegara. Pada masa pemerintahan Mulawarman-lah, Kutai mengalami kejayaan dan rakyatnya makmur.

Saat itu dibangun tempat ibadah berupa pura di berbagai tempat. Kendati Pura Payogan Agung, Kutai yang berdiri kini letaknya tidak persis di pusat bekas Kerajaan Kutai Kertanegara, namun lokasi yang dipilih tetap istimewa. Ini sebagai penanda bahwa sembilan abad, sampai abad ke-13 (saat pemerintahan Darma Setia), kerajaan Hindu pernah berjaya di Kalimantan yang pengaruhnya kala itu sampai ke pelosok Nusantara. (bersambung)

Menelusuri Jejak Hindu di Kaltim 


Lembu Suana, Simbol Kota TenggarongKemasyuran Kerajaan Kutai Kartanegara pernah setara dengan Majapihit dan Mataram. Namun akhirnya pameo usang: tiada yang abadi di dunia ini akhirnya terjadi pula pada kerajaan Hindu yang berpusat di Kaltim itu. Setelah berjaya hampir 13 abad sejak Kudungga, raja pertama, dengan puncak keemasan di era Mulawarman — raja ke-3 — Kutai Kartanegara akhirnya perlahan redup.

Pada saat mulai redupnya Kerajaan Kutai Kartanegara Mulawarman berpusat di Muara Kaman, pada abad ke-13 berdiri pula kerajaan baru bercorak Hindu Jawa di hilir Sungai Mahakam. Namanya Kutai Kartanegara Kertanegara dengan raja pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Seiring dengan perjalanan waktu, sebagaimana kisah raja-raja Nusantara lainnya, terjadi saling serang dan saling takluk.

Perang dahsyat antara Kutai Kartanegara Mulawarman yang saat itu dipimpin Darma Setia dari dinasti ke-27 dengan Kutai Kartanegara Kertanegara yang dipimpin Aji Sinum Panji tak bisa dielakkan. Perang yang memakan banyak korban itu berakhir dengan kekalahan Darma Setia. Kejayaan Kutai Kartanegara Mulawarman yang terukir sepanjang 13 abad pun terkubur bersama kusuma kerajaan.

Aji Sinum Panji kemudian melebur negeri taklukannya menjadi Kutai Kartanegara Kertanegara dengan pusat di Jahitan Layar, yang kini disebut Kutai Kartanegara Lama. Setelah Raja Aji Sinum Panji wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada Dipati Agung (1635 – 1650). Singkatnya, secara turun-temurun keturunannya memimpin sampai yang terakhir Sultan A.M. Parikesit (1915-1960).

Sejak tidak diakuinya kesultanan dalam struktur birokrasi RI, keturunan AM Parikesit akhirnya tak memperoleh kekuasaan secara formal. Kendati demikian, jejak Kerajaan Kutai Mulawarman dan Kutai Kertanegara tetap dikenang dan hadir di hati warga Kutai Kartanegara sampai kini. Bila kita berkunjung, prasasti berupa Yupa era Mulawarman bersama peninggalan sejarah lainnya masih bisa disaksikan di Museum Mulawarman, Tenggarong.

Hormati Leluhur

Yang menarik, masyarakat dan pemda setempat tampaknya sungguh menyadari sejarah masa lalunya. Kendati sisa-sisa keturunan langsung raja Hindu Kutai Kartanegara tak lagi ditemukan, masyarakat setempat yang kini mayoritas beragama Islam (yang beragama Hindu hanya 30 KK, itu pun semua pendatang) tetap menghormatinya. Antara lain membatu sepenuhnya dalam pemugaran Pura Payogan Agung dan menetapkan Lembu Suana sebagai simbol Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Kini, patung Lembu Suana dalam ukuran besar berdiri megah di Pulau Kumala, suatu delta di tengah Sungai Mahakam yang disulap jadi kawasan wisata. Patung Lembu Suana berwarna legam keemasan di Pulau Kemala, Kutai Kartanegara itu merupakan buah karya pematung kawakan kelahiran Bali, Nyoman Nuarta. Elok dan artistik sekali jika dipandang dari menara putar (sky tower) di ketinggian 80 meter. (gre)

Pura Payogan Agung Kutai Jadi Tujuan “Tirtayatra”


 

———————————————————–

Untuk mencapai Balikpapan kini, tak lagi perlu bersusah-susah melewati Surabaya dan Jakarta dengan risiko penundaan berjam-jam. Sejak 23 April lalu, Garuda Indonesia sudah melayani rute baru Denpasar – Balikpapan (pp) dengan transit di Makassar atau Yogyakarta. Perjalanan dari Denpasar ke Balikpapan sekitar 2 jam 15 menit plus waktu transit sekitar 20 – 30 menit.

Pintu Masuk

Balikpapan, Samarinda dan Tenggarong merupakan tiga kota yang paling populer di Kalimantan Timur. Balikpapan merupakan “pintu masuk” ke Kaltim karena di sanalah terletak Bandara Sepinggan. Samarinda merupakan ibu kota Propinsi Kaltim dan Tenggarong adalah ibu kota Kutai Kartanegara, kabupaten terkaya di Indonesia.

Balikpapan dan Samarinda mungkin banyak dikenal sebagai poros ekonomi di Kalimantan, khususnya Kaltim. Sementara Kutai Kartanegara juga memendam nilai historis. Di sana pada abad ke-14 pernah berdiri kerajaan Hindu tertua, yakni Kutai Kartanegara dengan raja pertamanya Kudungga. Kerajaan ini sempat menikmati masa keemasan pada masa pemerintahan Mulawarman.

Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kertanegera, yang luasnya 76,3 kilometer persegi ini terletak sekitar 45 kilometer sebelah barat Samarinda, Kaltim. Atau kalau ditilik dari Balikpapan, jauhnya sekitar 3 jam perjalanan. Perjalanan darat dari Balikpapan cukup melelahkan kendati Bukit Suharto dan Sungai Mahakam yang panjangnya mencapai 920 km bisa menjadi teman seperjalanan.