Agama Hindu & Weda

AGAMA HINDI / HINDU

Agama Hindu (bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म “Kebenaran Abadi”), dan Vaidika-Dharma (“Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah agama dunia. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setalah Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 milyar jiwa. Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anakbenua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Namun agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, sebagian kecil tersebar di pulau Jawa dan Lombok.

KITAB WEDA

Weda (Sanskerta: वेद; Vid, “ilmu pengetahuan“) adalah kitab suci agama Hindu. Weda merupakan kumpulan sastra-sastra kuno dari zaman India Kuno yang jumlahnya sangat banyak dan luas. Dalam ajaran Hindu, Weda termasuk dalam golongan Sruti (secara harfiah berarti “yang didengar”), karena umat Hindu percaya bahwa isi Weda merupakan kumpulan wahyu dari Brahman (Tuhan). Weda diyakini sebagai sastra tertua dalam peradaban manusia yang masih ada hingga saat ini. Pada masa awal turunnya wahyu, Weda diturunkan/diajarkan dengan sistem lisan — pengajaran dari mulut ke mulut, yang mana pada masa itu tulisan belum ditemukan — dari guru ke siswa. Setelah tulisan ditemukan, para Resi menuangkan ajaran-ajaran Weda ke dalam bentuk tulisan.[1] Weda bersifat apaurusheya, karena berasal dari wahyu, tidak dikarang oleh manusia, dan abadi.[2] Maharesi Byasa, menyusun kembali Weda dan membagi Weda menjadi empat bagian utama, yaitu: Regweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda. Semua itu disusun pada masa awal Kaliyuga.

Etimologi

Secara etimologi, kata Weda berakar dari kata vid, yang dalam bahasa Sanskerta berarti “mengetahui”, dalam rumpun bahasa Indo-Eropa berakar dari kata weid, yang berarti “melihat” atau “mengetahui”.[3] weid juga merupakan akar kata dari wit dalam Bahasa Inggris, sebagaimana kata vision dalam bahasa Latin.

Upaweda

Upaweda merupakan turunan dari Weda yang merupakan jurusan ilmu yang lebih spesifik dalam aplikasi kehidupan. Upaweda digolongkan dalam beberapa jurusan, antara lain:

Ayurveda dan Dhanurveda memiliki beberapa kesamaan dalam kegiatan praktiknya. Keduanya bekerja dengan memanfaatkan Marma, energi Prana yang mengalir di dalam tubuh. Ayurveda berfungsi mengobati badan jasmani, sedangkan Dhanurveda memanfaatkan energi prana sebagai pelindung tubuh. Konsep ini juga dikenal dalam ilmu pengetahuan di Cina, dalam akupuntur dan seni beladiri-nya.

Beberapa bidang ilmu seperti Jyotisha (Ilmu Astrologi), Tantra, Shiksha dan Vyakara (Ilmu Tata Bahasa) juga bersumber pada Weda.

Regweda (Sanskerta ṛgveda Dewanagari, ऋग्वेद) atau Rigweda adalah kitab Śruti yang paling utama. Ia terdiri dari 1,017 (+11 appendix = 1,028) nyanyian pujaan (himne) dengan jumlah total 10.562 baris yang dijelaskan dalam 10 buku. Satu hymne memiliki tiga bagian dasar. Bagian pertama adalah permohonan (exhortation), bagian kedua adalah pujian terhadap Dewa tertentu dalam bentuk doa, dan bagian ketiga adalah permohonan khusus. Agama yang dijelaskan dalam Regweda dapat disebut Brahmanisme atau Wedisme. Dalam Regweda kita melihat bangsa Arya baru saja menetap di lembah-lembah sungai Indus dan memuja semua kekuatan alam seperti udara (Bayu), air (Baruna), matahari (Surya), bulan (Soma), dan api (Agni). Rgweda sebagaimana bukan kitab suci yang disusun selama periode waktu tertentu tapi satu kitab suci yang disusun dalam tahapan selama beberapa abad.

Satu ide yang paling penting yang datang dari Regweda adalah tatanan kosmik yang disebut Reta. Reta berarti “tatanan suci dan alam semesta” satu tatanan paling harmonis dan tertinggi dari struktur realitas. Belakangan tatanan alam semesta yang disebut Reta ini menjadi atau disebut sebagai Sanathana Dharma atau “kebenaran abadi.” Dharma tidak saja menjadi hukum universal tapi juga hukum moral dari agama Hindu.

Kata Regweda atau dalam bahasa Sanskerta ṛgveda, adalah sebuah kata majemuk berbentuk tatpuruṣa dari ṛc “pujaan, himne”[1] dan veda “pengetahuan”) adalah sebuah kumpulan suci himne-himne atau nyanyian pujaan dalam bahasa Weda yang berasal dari anakbenua India dan dipersembahkan para dewa Hindu. Teks ini termasuk empat teks Hindu kanonik (śruti) yang dikenal sebagai Caturweda. Berdasarkan bukti filologis dan linguistik, Rgweda digubah kurang lebih antara tahun 1700 – 1100 SM (masa Weda awal) di daerah Sapta Sindhu (“Tanah Tujuh Sungai Agung”) yang sekarang terletak di sekitar Punjab. Dengan ini teks ini termasuk salah satu teks religius tertua dunia yang masih tetap digunakan dan juga termasuk teks-teks tertua dalam bahasa Indo-Eropa manapun.

Terdapat kemiripan yang erat secara linguistik dan budaya antara Rgweda dan Avesta awal Iran, yang keduanya diturunkan pada masa Proto-Indo-Iran, dan seringkali dihubungkan dengan budaya Andronovo yang berasal dari sekitar tahun 2000 SM.[2]

Sekarang, teks ini dimuliakan oleh umat Hindu di seluruh dunia. Bait-baitnya diresitasikan pada kesempatan berdoa, bersembahyang, dan acara-acara keagamaan atau resmi lainnya.

Yayurveda (Sanskrit यजुर्वेदः yajurveda) berasal dari akar kata yajus “pengorbanan”, veda “pengetahuan”, adalah salah satu bagian dari Kitab Suci Weda. Memuat sastra suci yang terfokus pada ritual dan korban suci.

Samaveda (Sanskerta: सामवेद, sāmaveda, berakar dari kata sāman “irama” + veda “pengetahuan”) tidak lain adalah himpunan mantra-mantra yang diberi tanda nada untuk berbagai irama. Samaveda merupakan bagian dari Catur Veda yang disebut juga “Nyanyian Veda Suci. Samaveda memuat 1875 mantram, dan di mana 1800 mantram merupakan pengulangan daripada Rgveda dan 75 mantram yang lain memang disusun dan dimuat dalam sastra ini.

Atharvaveda (Sanskerta: अथर्ववेद, atharvavéda, berakar dari kata atharvān, nama seorang Maharsi, dan veda berarti “pengetahuan”) adalah sastra suci bagi umat Hindu, merupakan bagian dari Catur Veda. Terdapat 9 śākhā (resensi) tentang Atharvaveda, yaitu: Paippalāda, Dānta, Pradānta, Snāta, Snauta, Brahmadāvala, Śaunaka, Devadarśani, dan Caranavidyā. Namun śākhā yang masih bertahan hingga kini adalah Śaunakiya dan Paippalāda.

Upanisad (Aksara Dewanagari: उपनिषद्, IAST: upaniṣad) termasuk dalam Sruti merupakan bagian dari Veda, di samping sastra-sastra Brahmana. Upanisad memuat ajaran filsafat, meditasi serta konsep ketuhanan.

Upanisad disusun dalam jangka waktu yang panjang, upanisad yang tertua di antaranya Brhadaranyaka Upanisad dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad kedelapan sebelum masehi. Merujuk pada Ashtadhyayi yang disusun oleh Maharsi Panini, jumlah upanisad yang ada sebanyak 900. Begitu pula Maharsi Patanjali menyatakan jumlah yang sama. Namun saat ini kebanyakan sudah musnah seiring dengan waktu.

  1. AITAREYA
  2. BRIHADANYARAKA
  3. ISA
  4. TAITIRIYA
  5. CHANDOGYA
  6. KENA
  7. MUNDAKA
  8. MANDUKYA
  9. PRASNA
  10. SWETASWATARA

WEDANGGA

Wedangga atau Vedanga (IAST vedāṅga) yang berarti “bagian-bagian” merupakan sastra sebagai “alat bantu” dalam memahami Veda. Wedangga merupakan buku sumber dalam mempelajari dan mendalami secara nyata dari mantra-mantra Veda. Wedangga memiliki enam bagian, di antaranya adalah:

  1. Siksha (śikṣā): fonetika dan fonologi (sandhi).
  2. Chanda (chandas): irama.
  3. Vyakarana (vyākaraṇa): tata bahasa.
  4. Nirukta (nirukta): etimologi.
  5. Jyotisha (jyotiṣa): astrologi dan astronomi.
  6. Kalpa (kalpa): ilmu mengenai upacara keagamaan.

Wedangga pertama kali dimuat dalam Mudaka Upanishad, sebagai topik kajian bagi para siswa dalam mempelajari Veda. Kemudian, para siswa tersebut mengembangkan disiplin ilmu Wedangga sebagai ilmu yang mandiri, dan masing-masing menyusun Sutra.

ITIHASA

MAHBHARATA

RAMAYANA

SUSASTRA YG LAINNYA

Smerti (Dewanagari: स्मॄति; IASTSmṛtiarti harfiah: “yang di ingat”) merupakan satu dari dua kelompok pembagian susastra Hindu. Smerti bukanlah wahyu sebagaimana hal-nya Sruti, dan diposisikan setelah Śruti sebagai sastra utama.

Secara garis besar, Smerti diklasifikan sebagai berikut:

  1. Dharmasastra, atau sastra hukum dan perundang-undangan.
  2. Itihasa, atau sejarah.
  3. Purana, sastra keagamaan.
  4. Sutra.
  5. Agama
  6. Darshana, filsafat Hindu. Yang termasuk didalamnya adalah apa yang disebut Sad Darshana, enam ajaran filsafat Hindu, yaitu: Samkhya, Yoga, Mimamsa, Waisiseka, Nyaya dan Wedanta.

Purana (Sanskerta: पुराण ; purāṇa, berarti “cerita zaman dulu”) adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata Purana berarti sejarah kuno atau cerita kuno. Ada 18 kitab Purana yang terkenal dengan sebutan “Mahapurana”. Penulisan kitab-kitab Purana diperkirakan dimulai pada tahun 500 SM.

Daftar kitab Purana (Mahapurana):

  1. Matsyapurana
  2. Wisnupurana
  3. Bhagawatapurana
  4. Warahapurana
  5. Wamanapurana
  6. Markandeyapurana
  7. Wayupurana
  8. Agnipurana
  9. Naradapurana
  10. Garudapurana
  11. Linggapurana
  12. Padmapurana
  13. Skandapurana
  14. Bhawisyapurana
  15. Brahmapurana
  16. Brahmandapurana
  17. Brahmawaiwartapurana
  18. Kurmapurana

 

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam dialog ini, Sri Krishna, personalitas Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini merupakan interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada “Bhismaparwa“. Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan dilawannya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Sri Krishna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Sūtra (Sanskrit: sū́tra, Devanagari: सूत्र, Pali: sutta), berarti benang atau untaian yang menyatukan benda-benda, dan dalam perumpamaan merujuk kepada sebuah pepatah (atau kalimat, peraturan dan rumus), atau sekumpulan pepatah yang serupa menjadi sebuah buku petunjuk. Kata ini berasal dari akar-kata siv-, yang berarti menjahit (kata-kata ini, termasuk Latin suere dan Bahasa Inggris to sew, semuanya sesungguhnya berasal dari PIE *siH-/syuH- ‘menjahit’)

Dalam Hinduisme, ‘sutra’ merupakan komposisi kesusasteraan jenis tertentu, berdasarkan pernyataan dari pepatah-pepatah pendek, biasanya menggunakan beragam istilah teknis. Bentuk kesusasteraan dari sebuah sutra dibuat sebagai ringkasan, karena pelajar dalam beberapa metode resmi akan kitab-kitab suci dan pelajaran ilmiah (Sanskrit: svādhyāya) diharapkan untuk dapat menghafalkan naskah-naskah ini. Oleh karena setiap kalimatnya mengandung arti yang padat, bentuk kesusasteraan lain muncul yang mana komentar (Sanskrit: bhāṣya) akan sutra ditambahkan, untuk memperjelas dan memberikan penjelasan.[1].

Dalam garis keturunan Brahmana, setiap keluarga diharapkan untuk memiliki satu Gotra, dan satu Sutra, yang berarti bahwa Veda Śruti) tertentu dihormati oleh keluarga ini dengan cara mempelajarinya dengan saksama (membacanya berulang-ulang dan menghafalnya).

Sebuah definisi yang paling terkenal akan Sutra, dalam literatur India merupakan sebuah sutra dan berasal dari Vayu Purana:

alpākṣaraṃ asandigdhaṃ sāravad viśvato mukham / astobhyaṃ anavadyaṃ ca sūtram sūtra vido viduḥ

Dengan suku kata yang sedikit, tidak samar-samar, ringkas, lengkap, / tidak-berlebihan, dan tanpa kekurangan: siapa yang mengetahui sūtra mengetahuinya demikian.

Di dalam Agama Buddha, istilah “sutra” kebanyakan merujuk kepada kitab-suci keagamaan Kitab, yang banyak diangap sebagai salinan akan pengajaran lisan dari Gautama Buddha. Dalam bahasa Cina, hal ini dikenal dengan 經 (pinyin: jīng). Pengajaran yang demikian disusun bersama di dalam Tipitaka dengan sebutan Sutta Pitaka. Terdapat juga beberapa naskah Agama Buddha lain, seperti Platform Sutra (atau lebih dikenal dengan sebutan Sutra Hui-Neng), yang disebut sebagai Sutra walaupun disandangkan kepada penulis setelahnya. Beberapa sejarawan menganggap bahwa pemeluk Agama Buddha menggunakan kata Sutra dalam bentuk yang tidak berkaitan dengan Sutta dalam bahasa Sanskerta, yang kemudian diwakili dalam bahasa Sanskrit dengan sūkta(pengucapan benardiucapkan dengan benar)

Bentuk kata dalam bahasa Pali, sutta hanya digunakan untuk merujuk kepada kitab suci Agama Buddha, yang dikenal juga sebagai Tipitaka atau Pali Canon

Pancaratra •

 Tantra •

Kumarawyasa-bharata •

 Stotra •

 Hanumancalisa •

Ramacaritamanasa •

 Shikshapatri •

Wacanamruta